Manusia di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, manusia memiliki keinginan untuk menemukan pasangannya di dunia. Perspektif yang muncul di masyarakat sekarang, khususnya masyarakat modern Indonesia bahwa untuk menemukan pasangan hidup, manusia akan melalui sebuah tahapan atau stage yang bernama pacaran. Banyak definisi yang berkembang tentang pacaran namun satu poin yang sering kudengar mengenai pacaran bahwa pacaran adalah sebuah hubungan untuk saling mengenal antara wanita dan pria sebelum berlanjut ke tahapan selanjutnya, yakni pernikahan. Benarkah semua itu? Sahabatku, Rifki Ramdan Maulana di dalam artikelnya apakah pacaran itu penting? telah memberikan jawaban dan beberapa penjelasan tentang seberapa penting pacaran.
Menurutku sendiri, pacaran adalah hubungan yang dijalin oleh manusia yang ragu akan Tuhannya. Hal ini bukan berarti seseorang yang pacaran berarti kafir, musyrik, syirik, dan lain sebagainya. Menurutku hal ini hanya mengindikasikan bahwa seseorang yang berpacaran ragu akan jodoh yang telah dijanjikan Tuhan. Sebuah kalimat yang terkenal menyatakan bahwa hidup, mati, jodoh, dan rezeki sudah diatur oleh Tuhan. Pernyataan yang jelas tersebut masih menimbulkan keraguan bagi orang yang berpacaran karena mungkin disebabkan oleh faktor gaib. Maksudnya faktor gaib, bukanlah santet, susuk, jin, setan, dan lain-lain, melainkan manusia tidak pernah tahu pasti, siapa jodohnya di dunia. Pacaran juga menurutku bukan memperbesar kemungkinan untuk berjodoh dengan pasangan yang dipacari, melainkan memperkecil kemungkinan untuk berjodoh karena yang kutahu pernikahan yang berawal dari pacaran lebih sedikit dibandingkan dengan pernikahan yang tidak melalui pacaran.
What do You Think???
Saturday, 28 January 2012
Tuesday, 24 January 2012
Menjaga Konsistensi
Hello Bloggers, udah lama banget kayaknya gw gak update blog ini, terakhir gw lihat postingan gw Februari tahun lalu. Sebenarnya gw sedikit galau mw ngelanjutin nge-blog atau nggak karena belakangan gw sedikit merasa gak nyaman aja buat nge-blog. Tapi hari ini gw putusin untuk ngelanjutin blog gw dengan beberapa pertimbangan lagi. Untuk postingan gw kali ini, gw memberikan judul "Menjaga Konsistensi". Sebelum gw menjelaskan lebih lanjut kenapa gw memilih judul ini, gw ingin mencoba memberikan sedikit perubahan di dalam blog gw ini. Gw pengen merubah kata-kata di dalam blog gw ini menjadi sedikit formal, seperti mengganti kata "gw" menjadi "aku". Mungkin memang sedikit kurang menarik karena kelihatan agak tidak user-friendly, tapi menurut gw ini lebih mudah dipahami oleh orang yang kurang bisa berbahasa "gaul" ala Indonesia dan gw akan berusaha untuk membuat blog ini semenarik mungkin untuk dibaca.
Judul blog kali ini bagiku sedikit amazing mengingat bahwa mungkin hal inilah yang menjadi hambatan bagi beberapa orang sepertiku untuk move on. Hal ini terlintas ketika aku sedang melakukan refleksi diri setelah berkunjung ke blog http://suksesislami.wordpress.com/, milik seorang teman kuliah yang bernama Rifki Ramdan Maulana. Hanya satu artikel yang baru kubaca tentang hakikat pacaran, tapi mengingatkanku pada tujuan hidupku yang belakangan ini kurasa sudah kurang jelas bagaikan kapal yang terombang-ambing di lautan. Semua poin di dalam artikel tersebut sebenarnya telah kuketahui dan menjadi motivasiku saat ini untuk menjalani hidup single untuk sementara waktu, hanya saja terkadang diriku lupa dan tidak konsisten.
Kata konsisten lalu muncul beberapa kali di benakku seakan berjalan menyusuri pikiranku hingga membuatku sadar bahwa aku bukan hanya tidak konsisten dengan masalah jodoh dan cinta, melainkan banyak hal. Aku menyadari bahwa aku pun tidak konsisten di dalam beribadah, belajar, berolahraga, dan lain sebagainya yang pada akhirnya membuat aku sesuatu kesimpulan bahwa hidupku tidak konsisten. Mungkin bukan cuma diriku yang tidak konsisten, banyak orang diluar sana juga mengalami hal yang sama tetapi tidak menyadarinya.
Judul blog kali ini bagiku sedikit amazing mengingat bahwa mungkin hal inilah yang menjadi hambatan bagi beberapa orang sepertiku untuk move on. Hal ini terlintas ketika aku sedang melakukan refleksi diri setelah berkunjung ke blog http://suksesislami.wordpress.com/, milik seorang teman kuliah yang bernama Rifki Ramdan Maulana. Hanya satu artikel yang baru kubaca tentang hakikat pacaran, tapi mengingatkanku pada tujuan hidupku yang belakangan ini kurasa sudah kurang jelas bagaikan kapal yang terombang-ambing di lautan. Semua poin di dalam artikel tersebut sebenarnya telah kuketahui dan menjadi motivasiku saat ini untuk menjalani hidup single untuk sementara waktu, hanya saja terkadang diriku lupa dan tidak konsisten.
Kata konsisten lalu muncul beberapa kali di benakku seakan berjalan menyusuri pikiranku hingga membuatku sadar bahwa aku bukan hanya tidak konsisten dengan masalah jodoh dan cinta, melainkan banyak hal. Aku menyadari bahwa aku pun tidak konsisten di dalam beribadah, belajar, berolahraga, dan lain sebagainya yang pada akhirnya membuat aku sesuatu kesimpulan bahwa hidupku tidak konsisten. Mungkin bukan cuma diriku yang tidak konsisten, banyak orang diluar sana juga mengalami hal yang sama tetapi tidak menyadarinya.
Saturday, 19 February 2011
Ujian
andai saja kutahu waktunya
takkan pernah kumerasa
gelisah, gundah gulana
tak siap tuk menjalaninya
andai saja kutahu bentuknya
kutempa diri ini bagai baja
menahan seluruh derita
hingga berakhir bahagia
andai saja kutahu tempatnya
kulangkahkan dengan gembira
takkan berhenti karenanya
terus menuju kesana
andai saja kutahu caranya
ku kan selalu mencoba
walau dunia tertawa
takkan ku bimbang dibuatnya
takkan pernah kumerasa
gelisah, gundah gulana
tak siap tuk menjalaninya
andai saja kutahu bentuknya
kutempa diri ini bagai baja
menahan seluruh derita
hingga berakhir bahagia
andai saja kutahu tempatnya
kulangkahkan dengan gembira
takkan berhenti karenanya
terus menuju kesana
andai saja kutahu caranya
ku kan selalu mencoba
walau dunia tertawa
takkan ku bimbang dibuatnya
Subscribe to:
Posts (Atom)